Sejarah dan Profil Provinsi Banten


Sejarah Provinsi Banten. Dahulu wilayah Banten (Cilegon, Tangerang, Serang, Pandeglang dan Lebak) merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun dengan adanya pemekaran daerah maka sejak tanggal 4 Oktober 2003 Banten resmi menjadii sebuah Provinsi dengan Ibukota Serang. Meskipun usianya masih muda Banten mempunyai sejarah panjang dalam perjuangan bersama dengan daerah-daerah yang lainnya, utamanya perjuangan melawan kaum kolonialisme / penjajahan.

Berikut ini profil lengkap dikutip dari laman resmi Kementerian Dalam Negeri :

Nama Resmi : Provinsi Banten
Ibukota : Serang
Luas Wilayah : 9.662,92 Km2 *)
Jumlah Penduduk :  9.978.932 jiwa *)
Suku Bangsa : Sunda, Baduy
Agama : Islam, Protestan, Katolik dan Sunda Wiwitan
Wilayah Administrasi :  Kab.: 4,  Kota : 4,  Kec.: 155,  Kel.: 313,  Desa : 1.238 *)

ARTI LOGO

Kubah Mesjid, melambangkan kultur masyarakat yang agamais.
Bintang bersudut lima, melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menara Mesjid Agung Banten, melambangkan semangat tinggi, yang berpedoman pada petunjuk Allah SWT.

Gapura Kaibon, melambangkan Daerah Propinsi Banten sebagai pintu gerbang peradaban dunia, perekonomian dan lalu lintas internasional menuju era globalisasi.

Padi berwarna kuning berjumlah 17 dan kapas berwarna putih berjumlah 8 tangkai, 4 kelopak berwana coklat, 5 kuntum bunga melambangkan Propinsi Banten merupakan daerah agraris, cukup sandang pangan. 17-8-45 menunjukkan Proklamasi Republik Indonesia.

Gunung berwarna hitam, melambangkan kekayaan alam dan menunjukkan dataran rendah serta pegunungan.

Badak bercula satu, melambangkan masyarakat yang pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran dan dilindungi oleh hukum.

Laut berwarna biru, dengan gelombang putih berjumlah 17 melambangkan daerah maritim, kaya dengan potensi lautnya.

Roda gerigi berwarna abu-abu berjumlah 10, menunjukkan orientasi semangat kerja pembangunan dan sektor industri.

Dua garis marka berwarna putih, menunjukkan landasan pacu Bandara Soekarno Hatta.

Lampu bulatan kuning,  melambangkan pemacu semangat mencapai cita-cita.

Pita berwarna kuning, melambangkan ikatan persatuan dan kesatuan masyarakat Banten.

Semboyan "IMAN TAQWA" sebagai landasan pembangunan menuju Banten Mandiri, Maju dan Sejahtera.

Arti warna yang digunakan dalam simbol daerah:

Merah : melambangkan keberanian

Putih : melambangkan suci, arif dan bijaksana

Kuning : melambangkan kemuliaan, lambang kejayaan dan keluhuran

Hitam : melambangkan keteguhan, kekuatan dan ketabahan hati

Abu-abu : melambangkan ketabahan

Biru : melambangkan kejernihan, kedamaian dan ketenangan

Hijau : melambangkan kesuburan

Coklat : melambangkan kemakmuran

NILAI BUDAYA

Terdapat 20 seni tradisional yang  dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu:

Seni Tradisional yang sangat kental diwarnai agama Islam yang perkembangannya hidup bersama agama itu sendiri. Seni-seni dalam katagori ini adalah : ngabedug (seni bedug), seni rampak bedug, seni qasidah, terebang gede, marhaba rakbi, dzikir saman, debus, patingtung, rudat, angklung buhun, dog dog lojor, bendrong lesung, ubrug dan beluk.

Seni Tradisional yang datang dari luar Banten tapi telah mengalami proses akulturasi budaya sehingga terkesan sebagai seni tradisional Banten. Termasuk katagori ini adalah seni-seni kuda lumping, tayuban, gambang kromong dan tari cokek.

Sumber : [kemendagri.go.id]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel