Ketum PAN Tak Berani Bicarakan Cawapres Jokowi pada Megawati


Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga Ketua MPR Zulkifli Hasan mengaku tidak berani membuka pembicaraan mengenai calon wakil presiden Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019 saat berbincang dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Mana berani kami tanya ke Mba Mega," ucap orang yang akrab disapa Zulhas itu di kampus IPDN Jatinangor, Jawa Barat (8/3).

Zulhas mengatakan bahwa Megawati merupakan politisi senior yang telah merasakan asam garam dunia politik Indonesia.

Megawati, kata Zulhas, tentu memiliki pandangan yang lebih patut disampaikan ketimbang pandangan dirinya. Di samping itu, partai yang diketuai Megawati pun kini merupakan pemenang pemilu 2014 lalu.

"Kita dengar saja pendapat Mba Mega," kata Zulhas.

Mengenai koalisi dengan PDIP untuk mendukung Jokowi pada Pilpres 2019, Zulhas masih belum mau memberikan jawaban pasti. Begitu pula dengan kabar bahwa Zulhas ingin menjadi cawapres Jokowi.

Dia mengatakan komunikasi politik masih berjalan dengan baik antara PAN dengan PDIP dan juga partai-partai lain. Namun, memang belum ada kesepakatan yang dapat dipublikasikan.

"Saya kira bulan depan bulan Mei paling lambat sudah keliatan lah," katanya.

Diketahui, Komisi Pemilihan Umum membuka pendaftaran pasangan capres-cawapres pada 4 hingga 10 Agustus mendatang. KPU lalu menyeleksi sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan. Pasangan yang dinyatakan memenuhi syarat akan ditetapkan sebagai peserta Pilpres 2019 pada 20 September 2018.

Setelah itu, pasangan calon yang telah ditetapkan dapat memulai kampanye hingga awal April 2019. Kemudian pemungutan suara pilpres 2019 dilaksanakan pada 17 April 2019.

Sejauh ini, hanya Joko Widodo yang telah mendapat dukungan dari sejumlah partai politik untuk berkontestasi pada pilpres 2019. Mereka yang memgusung Jokowi antara lain PDIP, PPP, NasDem, Golkar, Hanura, PSI, dan Perindo.

Sementara ketua Umum Partai gerindra Prabowo Subianto yang belakangan disebut bakal maju kembali sebagai capres, belum mendapat dukungan resmi dari partai. Hanya Gerindra dan PKS yang memberi isyarat bakal berkoalisi mengusung Prabowo. [cnnindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel