3 Bukti nyata teror bom Surabaya tak mampu goyahkan perekonomian RI


Aksi teror bom kini tengah menyerang Indonesia. Pusat penyerangan terjadi di Jawa Timur yaitu di Surabaya dan Sidoarjo. Setidaknya puluhan korban berjatuhan dari teror bom ini.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyatakan pemerintah tidak akan membiarkan aksi teror bom di Surabaya mempengaruhi perekonomian Indonesia. Dia pun memastikan saat ini aksi radikal akan terus ditangani.

Menteri Sri Mulyani mengatakan Indonesia harus menjaga persepsi keamanan saat kondisi perekonomian global sedang bergejolak.

"Jadi dari sisi tindakan yang dilakukan teroris di mana itu terjadi di berbagai negara, kita berharap penanganan ini bisa menimbulkan keyakinan bahwa Indonesia bisa menjaga keamanan," kata Menteri Sri di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta, Senin (14/5).

Menteri Sri menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan aksi teror menghilangkan persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia. Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang membaik, hal tersebut tercermin pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang meningkat, kondisi moneter yang kondusif dan perekonomian masyarakat yang menggeliat.

"Tentu kita berkepentingan untuk tidak membiarkan suatu teror itu, kemudian menghilangkan kepercayaan dan persepsi positif pada ekonomi kita," tuturnya.

Menurut Menteri Sri, pihaknya mendukung penanganan aksi teror bom yang dilakukan aparat keamanan TNI, Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) agar keamanan kembali stabil. Sehingga dapat meredam kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan Indonesia dan menjamin kepercayaan pihak luar. Apalagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan Word Bank dan IMF pada Oktober 2018.

"Kita tentu mendukung penuh apa yang dilakukan aparat keamanan, apakah Polri bersama TNI dan BNPT untuk bisa mengembalikan keamanan yang ada di dalam negeri, karena tahun ini kita semua tahu bahwa kita masuk tahun politik, pilkada, Asian Games, pertemuan IMF-WB," paparnya.

Namun demikian, aksi teror ini terbukti tidak berdampak pada perekonomian Indonesia. Berikut uraiannya:

1. Rupiah tetap bergerak menguat

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak menguat di perdagangan kemarin. Pagi harinya, Rupiah dibuka di Rp 13.857 per USD atau menguat dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 13.960 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah hingga siang ini juga bergerak menguat. Tercatat, nilai tukar sat ini berada di Rp 13.972 per USD atau menguat dibanding pergerakan pagi tadi yang mencapai Rp 13.988 per USD.

Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga), Adrian Panggabean, menyatakan rangkaian teror bom Surabaya tidak akan mengganggu pergerakan Rupiah. Dia menyatakan hal ini tidak akan membuat Rupiah semakin tertekan.

"Kita (Rupiah) memang melemah tapi yang sudah-sudah Rupiah tidak terganggu kok," tuturnya di Graha CIMB Niaga, Senin (14/5).

Rupiah bahkan masih terbilang stabil di tengah maraknya aksi teror bom dua hari terakhir ini. "Dari sejarahnya sih biasanya tidak terganggu ya, kan pernah juga ya bom bali waktu itu. Bahkan hari ini ada 4 bom yang terjadi. Rupiah masih stabil-stabil saja tuh," ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwa ekonomi nasional tidak terganggu terkait insiden tersebut. "Masalahnya ini bukan kali pertama, dan kita juga sudah sering sebetulnya menghadapi ini. Jadi saya rasa biasa-biasa saja, tidak akan terganggu sekali," tuturnya.

Selain itu, Adrian menyatakan kondisi bank CIMB Niaga di Kota Surabaya juga masih terbilang aman pasca ledakan bom Surabaya. "Masih aman di situ, dan tidak ada apa-apa ya. Semuanya Alhamdulilah masih aman-aman saja," tandas dia.

2. Perbankan aman dan tak ada penarikan dana


Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), Maryono, menegaskan aktivitas pelayanan perbankan tidak terganggu dengan adanya serangan bom di Surabaya. Dia memastikan, BTN tetap melakukan pelayanan secara normal kepada masyarakat.

"Kami tidak ada pengaruh dengan adanya kasus bom yang terjadi di Jawa Timur," ujar Maryono saat ditemui di Gedung BTN, Jakarta, Senin (14/5).

Maryono juga memastikan, dalam dua hari berturut-turut terjadinya serangan bom di kota pahlawan tersebut tidak membuat masyarakat menarik dananya besar-besaran dari bank. "Tidak (tidak ada penarikan dana)," katanya.

Di kesempatan lain, Head of Wealth Management, Standard Chartered Bank Indonesia, Bambang Simarno memastikan bahwa kantor cabang di Surabaya tetap beroperasi seperti biasa pasca teror serangan bom bunuh diri di Kota Pahlawan tersebut.

Bambang mengatakan, sebanyak 3 kantor cabang Standard Chartered yang berada di Surabaya berada dalam kondisi baik-baik saja, begitu pun dengan seluruh staf dan karyawannya.

"Sekarang sih memang 3 cabang kami di Surabaya masih beroperasi normal, kita masih melayani nasabah, semua karyawan semuanya masih ada di kantor cabang semuanya," kata Bambang, di kantornya, Senin (14/5).

Bambang mengungkapkan, pihaknya terus melakukan komunikasi dengan semua pegawai yang berada di Kota Pahlawan tersebut.

"Dan memang kita akan terus menerus memonitor situasi dan keadaan di sana bagaimana sebaiknya dan kita memang selalu memperhatikan staf-staf kita di Surabaya itu semuanya tidak ada yang terkena (bom)," ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan tidak terjadi perubahan dalam bisnis yang disebabkan insiden tersebut. "Tetap melayani nasabah, tidak ada perubahan."

Tak berhenti di situ, sentimen IHSG juga tak berpengaruh banyak pada aksi teror bom ini. Silakan klik selanjutnya.

3. Tak pengaruhi IHSG

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio yakin teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya (Jatim) pada Minggu, (13/5) tidak terlalu berpengaruh besar terhadap aktivitas di pasar modal.

"Secara fundamental perusahaan tercatat yang tergabung dalam LQ45 menunjukkan kinerja solid dengan rata-rata pendapatan meningkat sebesar 15,96 persen dan laba bersih meningkat 11,68 persen pada kuartal pertama 2018 dibanding periode yang sama tahun lalu," kata Tito Sulistio seperti dikutip kepala BEI Perwakilan Ambon Roberto Dachi di Ambon.

Sementara kondisi pasar juga cukup stabil yang ditunjukkan dengan likuiditas transaksi yang tinggi dengan rata-rata transaksi harian mencapai Rp 8,87 triliun (meningkat sebesar 16,7 persen dibanding 2017), dan frekuensi harian sebesar Rp 387 ribu atau meningkat 23,7 persen dibanding tahun 2017.

"Dirut BEI juga mengimbau agar investor dan seluruh pelaku pasar modal tidak bereaksi berlebihan dan tetap optimis terhadap stabilitas keamanan nasional," katanya.

Pada saat terjadinya teror bom Thamrin tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan sempat terkoreksi sebanyak 77,86 poin atau sebanyak 1,72 persen di level 4,459,32 poin.

Namun koreksi IHSG tersebut hanya reaksi sesaat atau bersifat sementara, karena pada penutupan perdagangan sesi II di hari yang sama, IHSG hanya ditutup melemah tipis 0,53 persen dan keesokan harinya justeru menguat 0,24 persen.

Investor di pasar modal tidak terpengaruh oleh gerakan teror yang terjadi saat itu.

Sehingga terkait teror bom Surabaya, BEI menyampaikan keprihatinan dan duka yang mendalam kepada para korban dan keluarga atas serangan teror tersebut. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel