Ngabalin Ingin Banyak Berdialog dengan Ormas Islam dan Pesantren


Kantor Staf Presiden (KSP) telah menunjuk politikus Partai Golkar Ali Mochtar Ngabalin sebagai tenaga ahli utama bidang komunikasi. Dia akan bertugas menyampaikan sejumlah keberhasilan pemerintah kepada ormas Islam dan kalangan pesantren.

Ngabalin mengatakan, pihaknya akan menyambangi masjid-masjid dan musala lantaran memiliki lantar belakang sebagai mubalig muda. Dengan begitu, ia bisa menyampaikan pemerintah tidak pernah melakukan kezaliman kepada umat Islam.

"(Pemerintah) tidak ada kebohongan, tidak ada kemunafikan, tidak ada tipu menipu. Tapi kenapa difitnah? Kenapa diceritain yang kebatilan?" katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

"Saya selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Koordinasi Mubalig Seluruh Indonesia, saya berkewajiban kasih tahu bahwa pemerintah ini baik, bahwa pemerintah ini menjalankan satu tugas yang mulia," tambahnya.

Ia memastikan, pemerintah akan banyak mengajak dialog ormas Islam dan kalangan pesantren untuk menepis fitnah dan adu domba dari pihak yang ingin membuat kesan bahwa pemerintah antiterhadap para ulama.

"Saya harus tampil untuk menjelaskan bahwa itu memfitnah, mengadu domba, mengobok-obak membuat hoax, berita yang bohong kepada Bapak Presiden," ujarnya.

Ngabalin menerangkan, kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah dengan kebatilan yang terorganisir. "Makanya saya dengan sukacita bersujud kepada Allah bersyukur karena Bapak Presiden memberikan kepercayaan untuk saya di sini. Saya mau laksanakan tugas ini," paparnya.

Ngabalin yang mantas Timses Prabowo di Pilpres 2014 itu menilai tak ada masalah dengan rekam jejaknya sebagai orang yang pernah mengkritik jalannya pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut dia, adanya perbedaan pandangan politik merupakan dinamika dalam berdemokrasi.

Ia mengaku ingin mencontoh bagaimana kehidupan masyarakat di daerah yang saling merangkul serta saling berkata manis dengan sesama. Sebab, hal itu tidak terjadi Jakarta karena adanya politisasi dengan menyudutkan partai penista agama, partai agama, hingga partai setan.

"Jangan pernah berbohong kepada rakyat. Perbedaan itu normal, orang bisa berbeda itulah dinamika, dinamis perubahan politik kita ini. Hari ini dia bisa menyatu, dulu dia bisa menyatu yang satu jadi Presiden, satu jadi Wapres, pecah hari ini berlawanan," lanjutnya.

"Sepanjang kepentingannya untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, Anda harus redamkan seluruh kebencian. Itu pikiranku karena itu saya mau datang ke sini," tandasnya. [okezone.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel