Pengamat soal Rupiah tembus Rp 14.000 per USD: Masih lebih baik dibanding 2013 lalu


Nilai tukar Rupiah bergerak melemah dalam beberapa waktu terakhir. Puncaknya, nilai tukar Rupiah melewati level psikologis Rp 14.000 per USD dan masih berlangsung hingga saat ini.

Pengamat Ekonomi Poltak Hotradero mengatakan, sebenarnya angka Rp 14.000 bukan merupakan ukuran untuk melihat parah atau tidaknya pelemahan yang dialami Rupiah. Saat ini, Rupiah melemah sekitar 3,7 persen dan ini lebih baik dibandingkan Filipina peso yang sebesar 4,3 persen, India rupe 5 persen atau mata uang negara lain di dunia.

"Rupiah mengalami pelemahan tapi tidak sedalam dibandingkan negara lain," ujar dia di kawasan Pattimura, Jakarta, Kamis (17/5).

Bahkan menurut dia Rupiah pernah melemah lebih parah dibandingkan saat ini, yaitu pada 2013 lalu. Saat itu, pelemahan Rupiah mencapai 12 persen.

"Dulu melemahnya sekitar 12 persen sekarang melemahnya 4 persen. Maka posisi Indonesia lebih bagus dibandingkan 2013. Ini masih ada good news-nya. (Dulu) Dari dolar Rp 9.000, naik tajam. Ini perlu kita perhatikan," kata dia.

Oleh sebab itu, lanjut Poltak, parah atau tidaknya pelemahan rupiah bukan dilihat dari nominal, tetapi dari persentase tingkat depresiasinya terhadap dolar AS.

"Cara berpikir jangan berdasarkan nominal, karena aktivitas ekonomi itu sifatnya relatif. Kenapa di-over blown. Harus lihat dari persentasenya untuk melihat ukuran dari suatu mata uang. Karena ekonomi kan bertumbuh juga. Pada 2013 jauh lebih parah, dan sekarang jauh lebih mending dibandingkan dulu. Jadi ini yang perlu menjadi perspektif," tandas dia. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel