RI Akan Ekspor Pesawat Militer ke Nepal dan Senegal


Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menerima penugasan khusus dari pemerintah untuk menyediakan fasilitas pembiayaan atas program ekspor pesawat terbang.

Direktur Pelaksana I Eximbank Dwi Wahyudi menjelaskan fasilitas sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 649/KMK.08/2017. Indonesia Eximbank memberikan pembiayaan kepada PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk pembiayaan ekspor pesawat udara ke Nepal dan Senegal dengan nilai sebesar Rp 354 miliar.

Dwi menjelaskan kredit modal kerja untuk pesawat CN-235 untuk Nepal dan Senegal ini berjangka waktu 12 bulan.

"Ada aspek nilai strategis PT DI karena mereka punya multiplier bagi ekonomi nasional dalam hal pemasok landing gear, tube forming, polyurethane, heat treatment, thermo forming of acrylic, tool and jig dan beberapa puluhan industri termasuk UKM," kata Dwi dalam konferensi pers di kantor Indonesia Eximbank, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

Dwi mengungkapkan, proyek ekspor pesawat terbang ke Nepal dan Senegal ini memiliki nilai strategis bagi PT DI karena supply record -export order dan kepuasan pelanggan dalam luar negeri. Selain itu proyek ini juga merupakan pilot project yang efektif untuk memasuki pasar negara Asia Selatan dan Kawasan Afrika.

Direktur Keuangan PT DI Uray Azhari menjelaskan perseroan akan mengekspor satu unit pesawat militer untuk Nepalist Army dan Senegal Air Force. Uray menjelaskan kedua negara tersebut telah melakukan kontrak dan saat ini proses manufakturing sedang berlangsung.

"Rencananya untuk Nepal masih order satu pesawat, apabila kami berikan 1 lagi mungkin mereka akan order 1 unit lagi. Untuk Senegal ini sudah pesanan yang kedua, kami juga sedang proses satu unit lagi," ujarnya.

Uray menargetkan untuk produksi pesawat militer Nepal dan Senegal ini akan selesai dan dikirim pada akhir 2019.

Dia menambahkan ekspor pesawat udara ke Nepal dilatarbelakangi oleh adanya permintaan dari negara tersebut untuk menyediakan pesawat yang sesuai dengan kondisi geografisnya. Kawasan Nepal sebagian besar merupakan dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 2.656 meter di atas permukaan laut.

"Sehingga transportasi udara yang sesuai dengan kontur Nepal adalah pesawat yang dapat dioperasikan pada landasan pacu yang relatif pendek," kata dia.

Uray menjelaskan, begitupun dengan Senegal, negara yang terletak di kawasan Afrika Barat tersebut membutuhkan pesawat terbang yang dapat berfungsi sebagai Maritime Patrol Aircraft (MPA). Hal ini dikarenakan kondisi politik di kawasan tersebut makin rentan terjadi gesekan dan pemberontakan. Secara geografis, Senegal memiliki garis pantai dengan panjang mencapai 531 km dan wilayah laut sekitar 4.192 km persegi. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel