Tenang, Dolar AS Tak Akan Sampai Rp 16.000 Seperti Krisis 98


Pergerakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) semakin sulit untuk diprediksi. Bahkan kemarin dolar AS sempat tembus Rp 14.200.
Meski masih bergerak liar, Ekonom Bank Permata Josua Pardede yakin rupiah tidak akan jauh melemah seperti saat krisis 1998 yang mencapai Rp 16.000. Sebab kondisi fundamental ekonomi RI saat itu berbeda dengan saat ini.

"Kalau dilihat dari kondisi fundamental. Pada saat 1998 kan sangat rentan karena utang luar negeri swasta sangat membengkak. Jadi ketika depresiasi rupiah banyak terjadi gagal bayar, bank banyak yang collapse, struktur ekonomi sangat tidak baik," terangnya kepada detikFinance , Selasa (22/5/2018).

Menurut Josua sistem keuangan perusahaan dan perbankan RI saat ini jauh lebih tertata rapih. Bank Indonesia (BI) juga mengharuskan agar para perusahaan melakukan lindung nilai (hedging) terhadap utang dalam bentuk mata uang asing.

"Jadi beban tingkat kerentanan lebih rendah dibandingkan 1998," tegasnya.

Josua percaya bahwa nilai tukar rupiah saat ini justru terlalu rendah jika dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi RI. Dia yakin nilai rupiah sesungguhnya berada di bawah level Rp 14.000.

Kekhawatiran mengenai rupiah yang bisa kembali ke level 1998, menurut Josua harus diredam. Pemerintah dan BI harus melakukan penjelasan mengenai hal itu.

Sebab jika kekhawatiran itu dibiarkan maka akan banyak perusahaan ataupun pihak-pihak tertentu yang panik dan kemudian memborong dolar AS. Alhasil rupiah akan semakin terpuruk.

"Kalau butuh impor memang perlu dolar, tapi kalau hanya spekulasi takut jadi Rp 16 ribu itu yang harus diredam. Makanya semestinya kita arahkan opini kalau segini bagaimana ya pemerintah dan BI memberikan sosialisasi bahwa tidak perlu panik. Kalau tidak butuh dolar jangan beli dolar, sesuai kebutuhan saja. Jadi permintaan dolar tidak meningkat," terangnya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel