AHY: Ketika Jokowi tentukan Cawapres apa semua partai koalisi happy?


Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan, sampai sekarang belum ada koalisi yang jelas baik di kubu Joko Widodo maupun Prabowo Subianto. Dia menuturkan, sampai dengan hari ini ini belum bisa menentukan secara defenitif walaupun waktunya semakin dekat.

"Memang tidak bisa terbayang dengan jelas, bahkan saya mengatakan kabutnya tebal. Dalam pertempuran kita mengenal the fog of war, kabut dalam peperangan, kabut tebal itu akan mempersulit pasukan yang menyerang ataupun pasukan yang bertahan. Dalam politik juga serupa, setiap parpol atau elite politik dalam tingkat itu semuanya masih memegang kartunya rapat-rapat," ucap AHY dalam acara halalbihalal dengan awak media di Jakarta, Jumat (20/7/2018) malam.

Sehingga, kata dia, masih belum bisa menebak ke arah mana para parpol ini. Bahkan dirinya mempertanyakan ketika Jokowi mengumpulkan bakal Cawapresnya koalisi akan senang.

"Apakah sekali lagi mereka yang sudah terasosiasi ke dalam koalisi Pak Jokowi akan stay sampai dengan tanggal 10 agustus menyerahkan rekomendasinya. Lalu pertanyaannya adalah, ketika beliau (Jokowi) menentukan Cawapres tertentu, apakah kemudian semuanya merasa happy dan akan tetap memberikan dukungan penuh pada koalisi itu atau sebaliknya? Ada yang kecewa misalnya, kemudian balik kanan, bisa menyeberang ke perahu sebelah atau membuat perahu yang baru," kata AHY memprediksi.

Dia juga mengatakan, ini berlaku dengan kubu Prabowo. Karenanya, terus dilakukan komunikasi.

"Demikian pula dengan kubu Pak Prabowo, kita juga masih terus melakukan komunikasi. Demokrat sendiri posisinya di mana? Pada sejak awal hari ini memang tidak di dalam pemerintahan. Sejak awal kita mengatakan bahwa kita adalah partai penyeimbang. Sehingga tidak ada yang bisa memaksa Demokrat sesegera mungkin mengumumkan Demokrat berada di mana. Karena kita punya hak, setelah menimang-nimang siapa yang paling pantas kita dukung," tukasnya.

Karena itu, masih kata dia, akan menarik sampai hari ini. Apakah terjadi pertarungan ulang seperti di 2019 antara Jokowi melawan Prabowo atau ada yang baru.

"Lalu apakah kemudian 2019 kembali akan terjadi antara rematch Pak Jokowi Prabowo dengan kubu masing-masing? Atau kemudian lahir sebuah konfigurasi baru, sebuah koalisi baru yang berisikan parpol-parpol termasuk elit dan tokoh-tokoh yang mungkin tidak terakomodasi, baik visi misi, program termasuk peran dan posisi yang diharapkan mereka dapatkan saat berkoalisi, lalu kemudian membangun koalisi yang baru," katanya. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel