Hari Ini, Rupiah Ditutup Menguat ke 14.330 per Dolar AS

Foto: CNN Indonesia

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut membuat nilai tukar rupiah kembali menguat. Rupiah ditutup menguat 45 poin atau 0,31 persen ke posisi Rp14.330 per dolar AS ada akhir perdagangan hari ini, Senin (9/7).

Begitu pula di kawasan Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS. Mulai dari renmimbi China menguat 0,37 persen, won Korea Selatan 0,34 persen, rupee India 0,29 persen, ringgit Malaysia 0,27 persen, dolar Singapura 0,26 persen.

Namun, baht Thailand, yen Jepang, dan peso Filipina justru melemah, masing-masing 0,01 persen, 0,03 persen, dan 0,1 persen.

Sedangkan mata uang negara maju kompak menguat, dolar Australia 0,59 persen, poundsterling Inggris 0,4 persen, rubel Rusia 0,31 persen, euro Eropa 0,19 persen, franc Swiss 0,15 persen, dan dolar Kanada 0,01 persen.

Ibarahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka mengatakan rupiah berhasil menguat karena memanfaatkan pelemahan dolar AS yang dipengaruhi oleh sentimen internal dan eksternal.

Dari sisi internal, mata uang Negeri Paman Sam melemah karena data ketenagakerjaan per Juni 2018 di bawah ekspektasi pasar. Lapangan pekerjaan meningkat sekitar 213 ribu pada bulan kemarin, namun tidak diimbangi dengan kenaikan gaji.

Sedangkan dari sisi eksternal, berasal dari terbuktinya keseriusan China membalas perang dagang AS. "Jadi, ternyata balasan China ini memberikan efek jelek kepada dolar AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/7).

Apalagi, sambung dia, bank sentral China, People's Bank of China, menggelontorkan pembiayaan mencapai 700 miliar yuan untuk membantu kalangan dunia usaha mereka yang diperkirakan gagal bayar karena pengenaan tarif impor tinggi dari AS.

"Ini membuktikan keseriusan mereka untuk mengatasi semua sentimen," katanya.

Lepas dari pengaruh pelemahan dolar AS, Ibrahim melihat ada pula beberapa sentimen yang mulai diterima pasar pada hari ini. Misalnya, isu perang dagang AS ke Indonesia.

Meski belum bisa memperkirakan seberapa besar pengaruhnya, namun langkah pemerintah yang mulai mengantisipasi dampak perang dagang dari AS diperkirakan bisa menguatkan rupiah, bila perang dagang benar terjadi.

"Harus diingat, pergerakan rupiah sangat rentan karena neraca perdagangan defisit dan isu perang dagang bisa menambah risiko pada perdagangan Indonesia," terang dia.

Selain itu, ada pula sentimen dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang memperkirakan neraca perdagangan Juni 2018 akan surplus hingga US$900 juta.

"Memang, di saat minim sentimen seperti ini, pernyataan-pernyataan dari BI cukup bisa masuk ke pasar, meski dampaknya tidak begitu besar," jelasnya.

Ia memperkirakan rupiah masih menguat hingga akhir pekan. Bahkan, rupiah diproyeksi bisa kembali ke kisaran Rp14.200 per dolar AS apabila pelemahan mata uang AS tetap berlanjut. [cnnindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel