Tak Hanya Rupiah, Mata Uang Argentina hingga India Ikut Melemah


Depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tak serta merta harus menyalahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab, pemerintahan Jokowi telah melakukan langkah-langkah konkret dan depresiasi rupiah masih relatif terkendali di tengah penguatan nilai tukar USD yang menjadi persoalan global.

“Pemerintahan Presiden Jokowi telah melakukan langkah-langkah yang konkret dan terus-menerus untuk mengatasi masalah ini termasuk melakukan langkah koordinasi dengan Bank Indonesia selaku otoritas yang bertanggung jawab soal stabilitas nilai tukar dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) selaku pengawas industri jasa keuangan,” ujar Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun di Jakarta, Minggu (15/7/2018).

Politikus Golkar itu mengatakan, kurs USD saat Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2014 sebagai presiden adalah sekira Rp12.030. Memang USD pernah berada di kisaran Rp14.800 pada 24 September 2015, dan kini kisaran Rp 14.400. Namun, bila dibandingkan Negara lain, misalnya peso Argentina (ARS), pada tiga tahun lalu, USD setara dengan ARS 9,1. Tapi dua tahun silam, ARS terdepresiasi. Nilai USD menjadi ARS 14,8.

Setahun kemudian, sambungnya, ARS kembali terdepresiasi dan nilai USD meningkat menjadi setara ARS 16,8. Kendati enam bulan lalu, USD menguat menjadi setara ARS 18,6. Bahkan, sebulan silam ARS makin terdepresiasi. USD pun menjulang menjadi ARS 25,6. Sedangkan saat ini USD setara ARS 27,1.

“Size ekonomi Indonesia dengan Argentina memang berbeda. Tapi depresiasi ARS ini sudah mencapai 300 persen dalam tiga tahun,” tuturnya.

Rupee India (INR) mengalami hal serupa, kata Misbhakun, sekira sepuluh tahun lalu USD masih setara dengan INR 42,1. Lalu, lima tahun lalu USD menjadi setara INR 59,3. Setahun lalu, USD sudah menjadi INR 64,3.

Namun, sebulan silam kurs INR terhadap USD kian anjlok dan menjadi setara INR 67,1. Berdasar catatan terkini, USD sudah menjadi setara 68,5. Begitu pula dengan depresiasi lira Turki (TRY), pada tiga tahun lalu USD setara TRY 2,63.

Tetapi, dua tahun lalu, USD terkerek menjadi TRY 2,88 dan setahun lalu kurs USD meningkat menjadi TRY 5,3. Sedangkan enam bulan lalu, USD menjadi TRY 4,65 dan sekarang menjadi TRY 4,84.

“Mata uang lira Turki dalam jangka waktu tiga tahun mengalami depresiasi, dari setiap USD setara TRY 2,63 menjadi TRY 4,84. Size ekonomi Turki hampir mendekati Indonesia sebagai emerging market country walaupun secara spesifik mempunyai banyak juga perbedaan dalam hal sumber daya alam, sistem ekonomi, struktur pasar dan beberapa para meter,” katanya.

Menurut Misbhakun, depresiasi yang dialami ARS, INR maupun TRY menandakan ada permasalahan di banyak negara emerging market. Sehingga, menguatnya USD bukan persoalan Indonesia saja, melainkan persoalan global.

“Ini persoalan global. Tinggal adalah bagaimana persoalan tersebut di atasi dan diantisipasi dampak-dampak negatifnya terhadap perekonomian nasional,” pungkasnya. [okezone.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel