Atribut 'Ganti Presiden' di Tanah Suci Bisa Ganggu Hubungan RI-Saudi

Foto: detikcom

Selama penyelenggaraan haji 2018, ada beberapa insiden munculnya atribut dengan tulisan#2019GantiPresiden. Munculnya tagar politik tersebut bisa menganggu hubungan hangat Indonesia dengan Arab Saudi.

"Yang patut dilihat adalah dari sisi keberjemaahan atau kebersamaan karena ini merupakan jemaah sesama bangsa dan ini dalam konteks haji ini kan tidak dilakukan di dalam negeri tapi di luar negeri. Ini negara orang dan tentunya kalau di negara orang tentunya kita harus menjaga nama baik bangsa," ujar Kabiro Humas, Data dan Informasi Kemenag Mastuki di Syisyah, Mekah, Sabtu (1/9/2018).

Pria yang juga merupakan pengendali teknis Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi ini mengatakan jemaah juga harus ikut menjaga nama baik bangsa karena itu berkaitan erat dengan hubungan Indonesia dengan Arab Saudi.

"Kalau ada diantara kita yang merasa, jangan disangka bawa apa yang dilakukan itu hanya untuk dirinya, ini kan di-close up oleh banyak orang oleh banyak media dan ini pasti sampai di pemerintahan Saudi. Pasti. Itu karena ramai ya tentu mereka pasti mendengar. Paling tidak dengan otoritas-otoritas yang berkaitan dengan haji di Arab Saudi pasti kabar ini sampai," ujar Mastuki.

Baca juga: Misteri Penempel #2019GantiPresiden di Zamzam untuk Jemaah Haji



Dalam penyelenggaraan haji 2018 sejauh ini, setidaknya ada tiga kejadian munculnya #2019GantiPresiden. Pertama, kaus dengan tagar tersebut dikaitkan ke tongkat dan dikibas-kibaskan saat jemaah berada di Mina. Kedua, ada jemaah yang memasang spanduk bertagar itu di depan pemondokan di Mekah. Ketiga, jemaah nonkuota diberi kardus zamzam yang sudah ditempeli stiker #2019GantiPresiden.

"Ini juga sudah mulai bisa mengganggu hubungan baik yang selama ini terus diupayakan pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi. Apalagi jemaah haji Indonesia yang selama ini dikenal santun, sopan. Nah maksudnya sopan ini adalah menjaga kata-kata ketika berada berada di negeri orang," sambung pejabat eselon II Kemenag ini.

Mastuki mengingatkan, haji merupakan ibadah yang mulia sehingga jangan dikotori oleh hal-hal yang bisa menimbulkan perpecahan di kalangan jemaah.

"Karena jemaah ini kan berasal dari mana-mana dan juga mungkin memiliki preferensi, afiliasi politik yang mungkin cukup beragam. Jadi ketika ada pihak lain yang mengambil referensi atau afiliasi politik tertentu, tentu itu akan mengakibatkan jumlah lainnya bisa jadi tersinggung, tidak suka dan itu akan memecah belah," kata Mastuki.

"Apalagi ini berkaitan dengan politik yang sifatnya sangat sensitif. Ngomong dengan sesama jemaah yang tidak baik saja itu dilarang, apalagi kalau menimbulkan banyak orang kemudian tidak suka, membuat menggunjing. Dan sekarang sudah kelihatan bukan hanya di tanah air tapi sesama jemaah juga sudah banyak yang mengetahui itu kan kurang baik," sambungnya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel