Muncul Koran Propaganda Prabowo vs Jokowi, PDIP Singgung Obor Rakyat

Foto: detikcom

Muncul sebuah koran propaganda berbahasa Inggris dengan nama 'Independent Observer'. PDIP pun mengingatkan agar pembuat media yang disebut dekat dengan Prabowo Subiantoitu untuk tidak melakukan hal yang sama seperti kasus Obor Rakyat.

"Ini kan negara demokrasi jadi saya rasa sah-sah saja apabila ada publikasi yang mendukung calon tertentu," ungkap politikus PDIP Charles Honoris dalam perbincangan, Sabtu (30/8/2018).

Meski begitu, Charles mengingatkan ada ketentuan dalam produksi jurnalistik. Mulai dari mengedepankan kode etik jurnalistik hingga konten yang harus netral.

"Apabila publikasi tersebut adalah produk jurnalistik tentunya ada aturan dan kode etik jurnalistik yang harus diikuti. Jangan menyebarkan fitnah, hoax dan ujaran kebencian," jelas Charles.

Anggota Komisi I DPR itu kemudian menyinggung soal kasus Obor Rakyat. Tabloid Obor Rakyat saat Pilpres 2014 lalu menulis isu Presiden Joko Widodo aktivis PKI dan anak Tionghoa.

Dewan Pers menyimpulkan tabloid Obor Rakyat bukan produk jurnalistik. Aktor intelektual tabloid itu, Setiyardi dan Darmawan Sepriyosa akhirnya divonis 8 bulan penjara karena terbukti mencemarkan nama baik Jokowi.

Tabloid bernada provokatif tersebut dituding dibuat oleh pendukung Prabowo Subianto yang pada Pilpres 2014 berpasangan dengan Hatta Rajasa. Charles mengingatkan pembuat 'Independent Observer' berkaca dari kasus Obor Rakyat.

"Ingat kasus Obor Rakyat. Segala hal ada konsekuensi hukumnya," jelasnya.

Seperti diketahui, sebuah koran propaganda berbahasa Inggris dengan nama 'Independent Observer' ramai diperbincangkan. Koran itu diduga diterbitkan kubu Prabowo-Sandiaga untuk melawan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Dari foto koran yang dilihat detikcom, headline koran tersebut bertulisan 'New Hope Vs Unfulfilled Promises' (Harapan Baru Vs Janji-janji yang Belum Terpenuhi). Dua ilustrasi pasangan capres dan cawapres, Prabowo-Sandiaga dan Jokowi-Ma'ruf, juga tampak menghiasi headline koran itu. Gambar koran yang diduga untuk propaganda itu pun kemudian menyebar melalui broadcast aplikasi WhatsApp.

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengakui koran Independent Observer memang diterbitkan oleh sekelompok orang yang memiliki kedekatan dengan sang ketum, Prabowo. Namun ia menegaskan koran tersebut tak terafiliasi dengan Gerindra.

"Ya memang ada beberapa sekelompok orang dekat dengan Pak Prabowo mencoba membuat penerbitan itu setahu saya," ujar Muzani saat dimintai konfirmasi, Jumat (31/8). [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel