Loading...

Kisah Bahagia Warga Pelosok Riau Kini Punya "Sekolah Satu Atap"


Raut haru bercampur bahagia terlihat di wajah warga Kampung Segeram, Desa Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, saat bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

Kehadiran Mendikbud bersama rombongan di tengah-tengah perkampungan itu bisa dikatakan mendadak. Warga kampung pun menyambut dengan antusias dan mengantar rombongan Mendikbud menuju Sekolah Menengah Pertama ( SMP) 03 Satu Atap (Satap) Bunguran Barat menggunakan sepeda motor.

Salah satu ungkapan bahagia muncul dari Faisal, Ketua RW Kampung Segeram sembari menyampaikan rasa terima kasih kepada Mendikbud yang hadir di desa tersebut.

“Tentunya ini membangun inspirasi kami karena selama ini tidak pernah didatangi menteri. Baru kali ini menteri turun ke Kampung Segeram,” ujar Faisal dalam keterangan tertulis, Jumat (20/9/2019).

Dia mengatakan, sebelum tahun 2018, puluhan orang tua terpaksa pindah rumah ke pulau seberang, yaitu Pulau Sedanau, karena anak-anak mereka sudah lulus sekolah dasar ( SD) dan harus melanjutkan pendidikannya ke SMP.

Dengan kehadiran SMP Satu Atap di Kampung Segeram, anak-anak bisa melanjutkan sekolah di kampungnya sendiri tanpa harus pindah ke Pulau Sedanau.

“Dulunya masyarakat kami, anak-anak lulus SD, orang tuanya harus pindah karena demi menyekolahkan anaknya. Mudah-mudahan dengan adanya SMP Satu Atap ini, orang-orang bisa bertahan, dan tidak pindah rumah,” ucap Faisal.

Dia menambahkan, demikian halnya dengan infrastruktur, meskipun kampungnya berada satu daratan dengan Pulau Natuna Besar, tetapi akses jalan dari kecamatan terdekat, yaitu Klari, dalam kondisi rusak.

“Kami titip kepada Bapak Presiden, jalan penghubung antara Segeram dan Klari mohon diperbaiki, karena itu jalan sudah sangat rusak,” imbuhnya.

Jadi pusat kegiatan belajar


Sama halnya dengan cerita Faisal, Kepala Sekolah SD 010 Segeram dan SMP 03 Satu Atap, Supriatno, mengungkapkan, sebelum ada SMP, siswa harus naik perahu ke Pulau Sedanau yang berjarak 45 menit perjalanan dari Kampung Segeram.

“Cuma 45 menit dari sini ke Sedanau. Mereka menetap di sana. Orang-orang sini ke luar ke sana. Ada keluarga di sana. Kalau ke Sedanau, naik pompom. Sekarang ada SMP di sini tidak perlu menyeberang,” tutur Supriatno.

Merespons hal itu, Mendikbud meminta kepada masyarakat agar memanfaatkan ruang kelas di SMP baru tersebut sebagai pusat kegiatan belajar.

Tidak hanya anak-anak, para orang dewasa yang putus sekolah pun diimbau ikut belajar dan melanjutkan ke pendidikan kesetaraan Paket A bagi yang belum lulus SD, Paket B bagi yang belum lulus SMP, dan Paket C bagi yang belum lulus SMA.

“Jadi anak-anak yang lulus SMP bisa membantu orang tuanya bekerja di laut, tapi sorenya belajar untuk masuk SMA, di mana? Di sini juga. Makanya kalau bisa sekolah ini dari pagi sampai malam untuk kegiatan belajar,” ucap Muhadjir.

Guna mewujudkan pernyataannya, dia menginstruksikan kepada Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Haris Iskandar untuk mengirimkan modul yang bisa digunakan masyarakat Kampung Segeram untuk belajar.

“Nanti kami kirim paket-paket agar bisa belajar setelah mengaji dan tahlilan. Agar bisa dapat ijazah SD dan SMP. Jadi, nanti nonton TV-nya di sini (sekolah) saja sambil belajar. Pak guru, ibu guru, pagi mengajar siswa-siswa, malamnya membimbing yang sepuh,” sebut Mendikbud.

Penyediaan infrastruktur teknologi


Dalam kunjungan kerja ke Kampung Segeram, Muhadjir juga meresmikan perpustakaan dan menandatangani prasasti peresmian SMP 03 Satu Atap Bunguran Barat dan dilanjutkan dengan penyerahan bantuan 500 buku dari Yayasan Bakti Nusantara.

Di samping itu, dia juga menyerahkan 20 komputer tablet kepada guru dan siswa, serta peralatan sekolah dan olahraga.

“Gurunya sudah diberi bantuan tablet, nanti Pak Sesjen akan memasang server agar bahan pelajaran tidak perlu dari buku, tapi dari internet. Jadi anak-anak di sini harus sudah mahir menggunakan internet, dan itu sama dengan anak-anak di kota. Tolong bapak dan ibu guru, dan para orang tua mengawasi anaknya,” tutur Mendikbud.

Untuk diketahui, tantangan terbesar dunia pendidikan di Indonesia adalah luasnya cakupan wilayah Indonesia dan masih belum meratanya kualitas pendidikan, seperti sistem belajar mengajar, infrastruktur, pemanfaatan teknologi, dan rendahnya minat baca.

Penyediaan infrastruktur pendidikan menjadi salah satu kunci dalam pemerataan layanan pendidikan, khususnya di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Maka dari itu, pemerintah melalui Kemendikbud hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di daerah pulau terluar Indonesia bagian utara, seperti di Kampung Segeram tersebut, untuk menyediakan fasilitas dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. [kompas.com]
Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel