Loading...

Hatta Gantikan Pengaruh Amien Rais, PAN Berpeluang Merapat ke Jokowi


Partai Amanat Nasional (PAN) baru saja menyelesaikan kongres dan menetapkan Zulkifli Hasan (Zulhas) kembali sebagai ketua umum untuk periode lima tahun ke depan.

Salah satu yang menarik adalah ditunjuknya Hatta Rajasa sebagai Ketua Majelis Penasihat Partai (MPP) PAN yang sebelumnya diduduki Soetrisno Bachir, sekaligus tergusurnya peran sentra salah satu figur utama PAN, Amien Rais karena jagoannya, Mulfachri Harahap kalah.

Pakar komunikasi politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Dedi Kurnia Syah Putra mengatakan, drama kongres yang disusul terpilihnya kembali Zulhas dan penunjukan Hatta Rajasa menunjukkan adanya upaya menghentikan pengaruh Amien Rais.

Terlebih, lanjut dia, sepanjang Reformasi, PAN belum pernah menjadi parpol yang transformatif. "Artinya tetap saja landai dan tidak dinamis. Nah mungkin Pak Zulhas di periode yang sekarang dengan memilih Pak Hatta, barang kali tujuannya agar PAN lebih transformatif," ujar Dedi di Jakarta, Jumat (14/2/2020). (Baca juga: Terpilih Ketum PAN, Zulhas Langsung Tunjuk Hatta Rajasa Jadi Penasihat)

Dedi yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Public Opinion (IPO) mengatakan, dengan pengaruh Zulhas yang lebih besar ke depan, PAN harus memilih jalan, apakah betul-betul konsisten akan mendukung pemerintah atau akan menjadi oposisi yang clear.

"Kalau melihat catatan seusai pilpres kemarin, Pak Zulhas kan termasuk yang agak gamang, apakah termasuk yang ada di oposisi atau di posisinya pemerintah. Gamang itu artinya secara sistem dibuat gamang karena ada pengaruh Amien Rais yang mungkin lebih menonjol sikap penolakannya terhadap pemerintah," paparnya.

Karena itu, ketika saat ini Zulhas bisa kembali memenangkan pertarungan maka kemudian Amien Rais diusahakan bisa menghilangkan pengaruhnya di PAN. Pemilihan Hatta sebagai Ketua MPP dinilai sebagai upaya untuk melakukan itu.

Dia menilai Hatta Rajasa dengan corak kepemimpinannya yang lebih teduh dan dinamis memunculkan harapan PAN akan bisa lebih diterima, baik itu oleh koalisi pemerintah maupun oleh publik.

Menurut Dedi, satu-satunya tokoh PAN di luar Amien Rais yang berpeluang besar dijadikan tokoh PAN adalah Hatta Rajasa.

"Beliau punya pengalaman yang menurut saya sangat komplet. Beliau pernah berada di pemerintahan cukup lama di eranya Pak SBY, dan beliau juga paham betul bagaimana PAN dibangun. Artinya kalau kemudian beliau dilibatkan secara langsung menggantikan posisinya Pak Amien, mau tidak mau PAN ke depan memang punya peluang lebih baik dibanding tahun-tahun ke belakang," katanya.

Menurut dia, dalam beberapa tahun belakangan, sebenarnya yang menghambat PAN adalah adanya konflik internal. Artinya ada kekuatan-kekuatan yang ingin mengikuti coraknya Amien Rais, ada pula yang ingin mengikuti komando Zulhas sebagai ketum.

"Sekarang kalau kemudian MPP-nya saja sudah satu jalur dengan ketua umum maka akan lebih harmonis. Pergerakan PAN akan lebih lincah dan fleksibel," urainya.

Dedi mengatakan, kalau PAN betul-betul mau menjadi parpol yang transformatif, maka mau tidak mau harus melakukan regenerasi tokoh PAN.

"Salah satunya memunculkan Pak Hatta supaya menjadi tokoh penggerak, sekaligus Pak Hatta ini karakter dan corak kepemimpinannya lebih dinamis dibandingkan Pak Amien Rais," urainya.

Menurut dia, keberadaan Amien Rais akan menimbulkan kendala komunikasi dengan penguasa. Oleh karena itu, PAN harus memiliki strategi baru.

"PAN kalau betul-betul mau menjadi partai yang lebih maju, paling tidak dia harus mengakui bahwa untuk dekat dengan pemerintahan diperlukan secara politik," katanya. [sindonews.com]
Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Loading...

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel