Loading...

Jawaban Presiden Jokowi atas Isu Lingkungan di Ibu Kota Baru


Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan jika pembangunan ibu kota baru tidak akan merusak lingkungan. Dia menjelaskan, lokasi ibu kota baru di Kaltim merupakan hutan produksi, bukan hutan alam, atau tropical land forest.

"Dari 256.000 hektare yang kita siapkan, nanti hanya dipakai 56.000 hektare," jelas Presiden Jokowi, dikutip dari wawancara dengan BBC Indonesia, Kamis (13/2/2020).

Dan dari 56.000 hektare yang akan dipakai, mulai sekarang ini hanya dipakai 5.000 hektare. "Artinya justru banyak lahan-lahan yang ingin kita perbaiki dan kita hijaukan," cetus dia.

"Lingkungan yang kita perbaiki, karena di sana terus terang hutannya juga sudah rusak, ini tugas kita di situ," jelas dia.

Presiden juga sudah menginstruksikan kepada menteri-menteri terkait yang pertama disiapkan adalah nursery. "Kebun bibit, yang kapasitasnya kurang lebih 17 juta bibit tanaman untuk memperbaiki itu," kata dia.

Selain itu, di kawasan tersebut juga ada hutan mangrove yang akan dipagari dan diproteksi. Hal ini sesuai dengan konsep ibu kota baru, Negara Rimba Nusa.

"Rimba artinya forest, jungle, nusa artinya pulau, jadi kita ingin justru memproteksi, melindungi dan memperbaiki hutan yang ada," kata Jokowi.

Dengan konsep Negara Rimba Nusa, ibu kota baru ini, akan menjadi very green city, smart city, compact city, dan zero emission. [okezone.com]
Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel